Keramaian kembali menyapa meeting room SMA Negeri 3 Bukittinggi pada Kamis (5/1/2026). Ruang yang biasanya tenang itu hari ini dipenuhi antusiasme. Pihak puskesmas Guguk Panjang hadir di sana untuk mengusung kegiatan Penyuluhan dan Orientasi First Aider Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) kepada guru dan anak sekolah. Kegiatan ini di hadiri oleh siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler PMR, Stigpala, dan Pramuka, serta guru pembimbing dari ketiga ekstrakurikuler tersebut.
Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan pengajaran dan pembekalan kepada siswa terkait pertolongan yang dapat dilakukan ketika mengalami luka psikologis, maupun saat melihat orang lain mengalami kondisi serupa.
Acara di buka oleh Ibu Kurnia Mira Lestari, M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa ekstrakurikuler PMR, Stigpala, dan Pramuka merupakan sasaran utama kegiatan ini karena materi P3LP sangat relevan dengan peran dan aktivitas ketiga ekstrakurikuler tersebut.
Selanjutnya, kegiatan sepenuhnya di serahkan kepada pihak puskesmas yang dipandu oleh ibu Yulia Hastuti. Sebelum masuk ke acara utama yaitu pembekalan materi, seluruh siswa yang hadir diarahkan untuk mengisi skrining kegiatan sebagai langkah awal mengenali kondisi diri.
Materi tentang Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) kemudian disampaikan oleh ibu Wiwit Mardiah, S.Kep. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa P3LP memiliki peran yang tak kalah penting dibandingkan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) .
"Luka ini tidak terlihat dan tidak tampak, tapi dia akan mengganggu keseharian kita," tutur ibu Wiwit.
Adapun materi yang dipaparkan meliputi:
1. Definisi luka psikologis.
2. Dampak pada Anak sekolah.
3. Peran Sekolah.
4. Mengenali tanda-tanda psikologis.
5. Prinsip dasar P3LP.
6. Peran guru dan staf sekolah sebagai penolong pertama.
Seluruh siswa yang terlibat terlihat begitu antusias dalam mendengarkan pemaparan materi. Suasana semakin hidup melalui interaksi dan diskusi yang terjalin antara pemateri dan peserta, menjadikan materi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Sebelum beranjak ke sesi selanjutnya, snack diberikan kepada seluruh peserta. Diselingi dengan tanya jawab dengan pihak puskesmas. Tanya jawab antara ibuk Atmawati, S.PdI.,Gr dan pihak puskesmas berlangsung seru dan interaktif.
Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi diskusi kelompok dan bermain peran. Siswa dibagi menjadi tiga kelompok untuk membahas tiga kasus berbeda yang mampu menggugah perhatian. Diskusi kelompok berlangsung dengan asik dan penuh antusiasme. Setiap anggota kelompok saling bahu-membahu, bertukar pikiran dan merangkai ide untuk menciptakan alur drama yang menarik.
Setelah diskusi selesai, setiap kelompok diminta untuk bermain peran berdasarkan skenario drama yang telah mereka buat. Aksi bermain peran ini diawali oleh kelompok A dan berlanjut hingga kelompok B dan C.
Setiap kelompok menampilkan drama kelompok mereka masing-masing dengan penuh semangat. Berkat kerja sama yang baik, penampilan setiap kelompok berhasil menyita perhatian, menghadirkan pesan P3LP dalam balutan cerita yang memukau.
Dalam penyampaian evaluasi kegiatan bermain peran pada penyuluhan P3LP, Ibu Wiwit memberikan apresiasi kepada setiap kelompok atas aksi bermain peran yang dinilai kreatif dan memanjakan mata. Menurutnya, penampilan para peserta tidak hanya menunjukkan pemahaman materi yang baik, tetapi juga keberanian dalam menyampaikan pesan-pesan penting P3LP secara komunikatif dan menarik.
Ia menambahkan bahwa metode bermain peran menjadi salah satu media efektif dalam kegiatan penyuluhan karena mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta serta memudahkan pemahaman materi. Melalui evaluasi ini, diharapkan seluruh peserta dapat mengambil pelajaran dari setiap penampilan kelompok dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan penyuluhan P3LP.
Evaluasi tersebut menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan. Acara ditutup dengan sesi foto bersamaâsebuah bingkai kenangan dari hari ketika siswa belajar bahwa luka tidak selalu tampak oleh mata, tetapi tetap perlu dipahami dan ditangani dengan empati. Diharapkan, melalui penyuluhan ini, siswa dan guru dapat lebih peka serta sigap dalam memberikan pertolongan pertama terhadap luka psikologis di lingkungan sekolah.